Ilmu Belajar


Belajarlah atau… ?
Mei 27, 2011, 1:36 am
Filed under: Education

Don’t worry about a thing

Cause every little thing it’s gonna be alright

Raise up this morning

(Petikan Lagu Robert Nesta Marley (BOB MARLEY))

 

Potongan Syair di atas mengingatkan banyak orang akan peristiwa penembakan terhadap Bob Marley dan Keluarganya. Namun, bob berusaha untuk pulih dengan cepat karena ada hutang untuk konser amal yang tertunda. Marley sangat bersemangat sehingga tidak mempedulikan kesehatan bahkan nyawanya. Ketika ditanya mengapa dia melakukan hal tersebut, Marley menjawab, “orang-orang yang mencoba membuat dunia ini lebih buruk tidak pernah mengambil hari libur. Bagaimana mungkin??!”

Pahamkah kita maksud dari ”orang-orang yang mencoba membuat dunia ini lebih buruk?”. Kita bahkan tidak sadar bahwa dunia memasuki babak kehancuran yang nyata namun membuat manusia lupa dan mungkin tidak peduli. Dunia mengalami kemunduran dari segi kealamiahannya, dimana konsep ke TUHAN an sebagai dasar atau prinsip dalam hidup memudar dan dihilangkan. Tumbuhnya paham materialisme dan ateisme memaksa setiap manusia berfikir instan dan memandang segala sesuatu berdasarkan untung rugi (uang, kekuasaan) bahkan kebebasan tanpa batas dengan hukumnya “apapun boleh dilakukan sesuai kehendak kita”. Bahkan kaum materialis ini menyebarkan prinsip-prinsip ini ke dalam dunia pendidikan dan media informasi (televisi/film) secara massive dan tanpa henti.

Hal ini dapat kita lihat dari betapa kentalnya budaya hedonisme atau mementingkan penampilan daripada kualitas diri di kalangan anak muda. Memudarnya budaya intelektual di sekolah dan di kampus dan lemahnya kemampuan berfikir dan kemandirian generasi muda khususnya di negara berkembang (Indonesia). Pernahkah kita menyadari kenapa perusahaan telepon selular (termasuk gsm dan cdma) di Indonesia berkembang dengan pesat, hal ini dikarenakan berubahnya konsep short massage service (sms) menjadi ajang “ngobrol” bukan  (hanya) untuk menyampaikan pesan semata. Inilah pemanfaatan teknologi yang tidak sesuai hasil buah pikir manusianya atau tidak siap dengan budaya yang ada. Teknologi seperti sms merupakan hasil berpikir manusia yang mengdepajkan budaya membaca yang sudah sangat maju, sehingga dapat memanfaatkan teknologi sms secara bijak yaitu digunakan semata untuk menyampaikan pesan.

Ini merupakan salah satu contoh sederhana permasalahan yang muncul sebagai akibat dari lemahnya kemampuan dan semangat belajar manusia dan masyarakatnya. Belajarlah yang akan membedakan antara manusia yang paham dengan yang awam, yang hidup dalam keterangan dan kegelapan dan jelas tidak akan sama antara orang yang melihat dengan yang tidak dapat melihat. Belajarlah yang akan memajukan kehidupan sebuah bangsa yaitu dengan menghasilkan sumber manusia yang berkualitas yang mampu diserahi tugas untuk menyelesaikan permasalahan dan mengerjakan peran-peran penting dalam kehidupan.

BELAJAR. Kata inilah yang melatarbelakangi Jurusan Teknologi Pendidikan lahir dan menjadi semangat dalam mengembangkan berbagai teori dan praktek dalam pendidikan dan kehidupan. Teknologi Pendidikan bukan hanya dipandang sebagai sebuah disiplin ilmu yang memanfaatkan berbagai teknologi dalam belajar dan pendidikan, tetapi membangun pondasi yang kuat kepada setiap manusia untuk siap menjadi subjek dalam setiap kehidupan terutama disaat menghadapi perkembangan teknologi yang bukan bersalah dari tempatnya hidup dan tumbuh. Menurut Winarno Surakhmad (Bengawan Pendidikan Indonesia), “ilmu pendidikan yang tidak tumbuh dari tempat asalnya tidak akan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang sadar dan mampu menyelesaikan permasalahan di tempat tersebut”. Bagaimana mungkin Indonesia mampu berhasil dalam mengatasi kemiskinan, kemacetan, banjir, hutan gundul, korupsi dan lain sebagainya, bila ilmu pendidikannya berasal dari luar. Banyak budaya dan pola hidup yang positif dan kuat yang mulai hilang bahkan punah akibat tercerabut dari pembelajaran di sekolah. Banyak dari kita (generasi muda) yang tidak tahu dengan akar sejarah bangsa Indonesia.

BELAJAR. Kata inilah yang mau tidak mau harus didorong dan digiatkan bagi generasi muda, manusia yang belajarlah yang mampu menyadari bahwa hari ini dan masa depan harus semakin baik dan terbaik dibandingkan hari yang kemarin. BELAJAR mampu menghasilkan manusia-manusia yang sadar dengan tujuan, peran dan arah hidupnya. Bahkan dengan belajar konsep tentang kesejahteraan hidup dapat tercapai. Ketika seseorang belajar dia akan memperoleh pengetahuan, dari pengetahuan tersebut dia berkarya, dari karya dia mampu menghasilakan/income (pendapatan), dengan pendapatan dia mampu memenuhi kehidupannya dan orang lain. Kemudian konsep pemenuhan kebutuhan inilah yang kita kenal dengan kesejahteraan. Jadi sangat tidak mengherankan bila bangsa maju berani mengratiskan pendidikan untuk warganya demi sebuah bangsa dan Negara yang maju dan sejahtera.

Kembali pada Teknologi Pendidikan. Sebuah disiplin ilmu yang memiliki kontribusi kuat dalam dunia belajar dan pendidikan, namun masih sedikit yang mengetahui bahkan Pemerintah (kementrian pendidikan nasional). Di Amerika, Australia, Inggris dan Negara maju lainnya teknologi pendidikan merupakan salah satu jurusan favorit dan menjadi tonggak perubahaan dan perkembangan pendidikan. Bagaimana tidak, Yusufhadi Miarso melukiskan peran hebat Teknologi Pendidikan dalam bukunya Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, bahwa secara umum teknologi pendidikan mempunyai potensi untuk:

  1. Meningkatkan produktivitas pendidikan, dengan jalan:
  2. Memberikan kemungkinan pendidikanyang sifatnya lebih individual, dengan jalan:
  3. Memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah, dengan jalan:
  4. Lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan:
  5. memungkinkan belajar secara lebih akrab karena dapat:
  6. memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata, terutama dengan jalan:
  • Mempercepat tahap belajar
  • Membantu guru menggunakan waktunya secara lebih baik
  • Mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar anak.
  • Mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional
  • Memberikan kesempatan anak berkembang sesuai kemampuan
  • perencanaan program pengajaran yang lebih sistematik
  • pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi penelitian tentang perilaku
  • meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi
  • penyajian informasi dan data secara lebih konkrit
  • mengurangi jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah
  • memberikan pengetahuan tangan pertama
  • pemanfaatan bersama tenaga atau kejadian yang langka secara lebih luas
  • penyajian informasi menembus batas geografi.

Potensi-potensi yang dimiliki oleh disiplin TP tentunya menuntut adanya kualifikasi tenaga ahli atau profesi TP yang mampu dan profesional. Untuk itu, dibutuhkan kompetensi dan kualifikasi lulusan TP yang secara umum tergambar dalam tugas-tugas pokok sebagai berikut:

  1. Menyebarkan konsep dan aplikasi teknologi pendidikan, terutama untuk mengatasi masalah belajar di mana saja
  2. merancang program dan sistem instruksional
  3. memproduksi media pendidikan
  4. memilih dan memanfaatkan berbagai sumber belajar
  5. mengelola kegiatan belajar dan intstruksional yang inovatif
  6. menilai produk, program, dan sistem intsruksional
  7. memerhatikan perkembangan teknologi dan dampaknya dalam pendidikan
  8. mengelola organisasi dan personel yang melaksanakan kegiatan pengembangan dan pemanfaatan teknologi pendidikan
  9. merencanakan, melaksanakan dan menafsirkan penelitian dalam bidangnya dan bidang lain yang berkaitan dengan teknologi pendidikan.

Bahkan seorang Sarjana Teknologi Pendidikan harus memiliki kemampuan sebagai berikut:

  1. Memahami landasan teori/riset dan aplikasi TP
  2. Merancang pola instruksional
  3. Memproduksi media pendidikan
  4. Mengevaluasi program dan produk instruksional
  5. Mengelola media dna sarana belajar
  6. Memanfaatkan sarana, media, dan teknik instruksional\
  7. Menyebarkan informasi dan produk TP
  8. Mengoperasikan sendiri dan melatih orang lain dalam mengoperasikan peralatan audiovisual

Konsep yang sungguh luarbiasa ini sudah seharusnya mampu menjadikan Teknologi Pendidikan sebagai sebuah jurusan menjadi salah satu yang dibutuhkan masyarakat (favorit) dan kita wajib bersyukur bahwa konsep Teknologi Pendidikan sudah mulai dimanfaatkan oleh pemerintah melalui kementrian pendidikan nasional, salah satunya menggunakan kata pembelajaran dalam peraturan pendidikan. Bukan tidak mungkin, untuk kedepan Teknologi Pendidikan akan menjadi motor penggerak perubahan melalui pembelajaran  dan pendidikan, sehingga mampu menjawab tantang dan perubahan zaman dan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang CERDAS dan SEJAHTERA.

Apa yang membuat hari benderang? Matahari bundar yang ternoda!

Dari hayat yang tidak ternoda cahayamu akan terbit. Cahaya ini akan menuju angkasa raya melaju lebih cepat ketimbang cahaya bulan dan matahari.

Sudahkah engkau hapuskan sketsa harapan dari kanvas jiwamu? Dari debu-debu kegelapanmu sendiri cahaya akan bersinar.

Pengetahuan manusia akan mendesak menguasai angkasa, cintanya akan mengaku Yang Tak Terhingga.

(Sepenggal Puisi Muhammad Iqbal tentang seorang khalifah yang bernama MANUSIA, maka BELAJARlah!!!)


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: