Ilmu Belajar


Di Era Global, Sumber Belajar Yang Mendatangi Peserta Didik
Februari 5, 2010, 7:25 am
Filed under: Education

Oleh: Sudirman Siahaan

(http://www.e-dukasi.net/artikel/index.php?id=82)

Pada umumnya, apabila seseorang ingin mengetahui sesuatu, maka ia dapat saja pergi menemui seseorang yang dinilai mengetahui atau menguasai yang ingin diketahuinya. Atau, orang tersebut pergi ke toko buku atau perpustakaan untuk mencari buku yang dapat memberikan informasi tentang sesuatu yang ingin diketahuinya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa oranglah yang harus aktif pergi mencari sumber berita atau sumber belajar di berbagai tempat. Masih beruntung apabila pada akhirnya dapat menemukan sumber berita atau sumber belajar.

Di lingkungan pendidikan, peserta didiklah yang harus aktif pergi ke sekolah agar dapat bertemu dengan sumber belajar yang berupa guru misalnya. Di sekolah juga, peserta didik dapat menemukan beberapa sumber belajar lainnya, seperti: peta, globe, buku, dan berbagai jenis media pembelajaran lainnya. Dalam kegiatan pembelajaran yang pada umumnya terjadi adalah bahwa peserta didik yang aktif mendatangi sumber belajar. Apakah mungkin terjadi yang sebaliknya, yaitu peserta didik yang didatangi oleh sumber belajar? Bagaimana mungkin dapat terjadi sumber belajar yang mendatangi peserta didik?

Di era global ini, siapapun dapat mengamati bahwa seorang anak yang ingin belajar di Sekolah Dasar (SD) misalnya, ia harus datang ke SD. Artinya, anak atau peserta didiklah yang mendatangi SD karena di SD tersedia berbagai sumber belajar, seperti guru, buku-buku, dan berbagai media pembelajaran lainnya. Hal yang sama juga terjadi bagi anak yang ingin belajar di SMP, SMA, dan SMK. Keadaan yang demikian ini yang lazim terjadi. Yang menjadi pertanyaan adalah “Apakah tidak memungkinkan di era global yang serba teknologis ini, seorang anak tidak perlu harus datang ke SD atau TK untuk belajar?”. “Apakah dimungkinkan bagi sang anak untuk tinggal di rumah tetapi berbagai sumber belajar datang menghampirinya sehingga tetap dapat belajar?”.

Pengalaman negara Australia di bidang pendidikan dengan persebaran penduduk yang sangat berjauhan dan jarang dapat dijadikan sebagai contoh tentang potensi teknologi, sehingga tidak semua anak dapat datang dan belajar di sekolah yang disediakan oleh pemerintah atau institusi pendidikan lainnya. Anak-anak usia Taman kanak-Kanak terpaksa tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran di Sekolah Taman Kanak-Kanak yang ada. Demikian juga halnya dengan anak-anak pada usia pendidikan yang lebih tinggi. Tidak semua mereka ini dapat datang dan belajar di sekolah setiap hari. Artinya, yang menjadi kendala adalah apabila anak harus mendatangi sumber belajar secara rutin setiap hari. Apa solusi yang dilakukan oleh pemerintah Australia?

Kemajuan teknologi telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari manusia. Kemajuan teknologi juga telah memberikan berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari manusia termasuk dalam kegiatan pembelajaran. Pemerintah Australia mengoptimalkan pemanfaatan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk membelajarkan para warga negaranya yang karena kondisi geografis dan persebaran penduduk yang terpencar-pencar dan saling berjauhan. Dengan dukungan TIK, pemerintah Australia menghadirkan berbagai sumber belajar yang mendatangi peserta didik mulai dari TK. Bagaimana mungkin anak TK dapat belajar melalui pemanfaatan TIK?

Pemerintah Australia memberikan kredit kepada keluarga yang membutuhkan perangkat TIK untuk mendukung terlaksananya kegiatan pembelajaran. Pelatihan tentang cara-cara pemanfaatan perangkat TIK diberikan kepada anggota keluarga, baik orang tua maupun orang dewasa yang ada. Agar anak-anak usia TK dapat belajar sebagaimana layaknya teman-temannya di Sekolah Taman Kanak-Kanak, maka lembaga penyelenggara pendidikan TK memberikan layanan kegiatan belajar kepada anak-anak TK melalui orang dewasa yang ada atau tinggal serumah dengan menggunakan perangkat TIK.

Melalui perangkat TIK, orangtua anak dibimbing tentang berbagai hal yang harus dilakukan untuk membelajarkan anaknya yang berusia TK. Apabila ada masalah, orangtua juga dapat mendiskusikannya dengan pihak pengelola pendidikan TK secara jarak jauh melalui perangkat TIK yang telah ada. Pada dasarnya, orangtua atau orang dewasa yang dekat dengan sang anak yang berusia TK yang melakukan kegiatan pendidikan/pembelajaran. Sumber belajar yang datang menghampiri sang anak melalui orangtua atau orang dewasa yang dekat dengan sang anak melalui penggunaan perangkat TIK.

Pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi di mana anak telah mampu memanfaatkan sendiri perangkat TIK, maka anak dapat secara langsung berinteraksi dengan sumber belajar. Untuk belajar, anak tidak perlu meninggalkan tempat tinggalnya menuju sekolah yang ada, yang jarak tempuhnya cukup lama. Hanya saja, untuk pengembangan aspek sosial anak, maka lembaga pengelola pendidikan secara berkala (setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran) mengundang semua peserta didik untuk berkumpul dan tinggal bersama serta belajar bersama.

Bagaimana keadaannya di Indonesia? Apakah contoh pengalaman pemerintah Australia memanfaatkan TIK di bidang pendidikan dapat diterapkan di Indonesia, khususnya bagi daerah-daerah yang penduduknya terpencar-pencar, jarang dan tinggal berjauhan? Model pendidikan dengan memanfaatkan TIK telah juga diterapkan di Indonesia tetapi implementasinya tidak sama dengan yang diterapkan di Australia. Esensinya adalah mendatangkan sumber belajar ke tempat peserta didik. Melalui dukungan kemajuan TIK telah memungkinkan Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom)-Departemen Pendidikan Nasional menghadirkan berbagai sumber belajar ke tempat peserta didik berada. Hal ini berarti bahwa bukan lagi peserta didik yang mendatangi sumber belajar tetapi sumber belajarlah yang mendatangi peserta didik.

Salah satu tugas Pustekkom-Depdiknas adalah mengkaji, merancang, mengembangkan, dan mendiseminasikan berbagai sumber belajar yang dapat mendatangi peserta didik di mana pun mereka berada. Kemampuan Pustekkom-Depdiknas menghadirkan sumber belajar yang mendatangi peserta didik telah berlangsung lama, yaitu sejak dimulainya program siaran radio pendidikan dan siaran televisi untuk pembinaan watak.

Beberapa di antara jenis sumber belajar yang dihasilkan Pustekkom yang telah dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan menghampiri peserta didik adalah program pembelajaran yang disajikan melalui siaran Televisi Edukasi (TVE), EdukasiNet, dan Siaran Radio Pendidikan (SRP). Menghadirkan sumber belajar mendatangi peserta didik memang membutuhkan ketersediaan fasilitas pemanfaatan di tempat peserta didik berada, seperti monitor TV, komputer dengan akses internet, dan pesawat radio.

Salah contoh dari produk Pustekkom-Depdiknas adalah film serial Aku Cinta Indonesia (ACI) Jilid II yang bertemakan pendidikan sejarah perjuangan bangsa (PSPB). Film serial ACI ini ditayangkan secara nasional setiap minggu oleh stasiun TVRI sehingga di mana pun peserta didik berada, sejauh mereka mempunyai pesawat televisi dapat menangkap siaran TVRI, maka ini berarti bahwa sumber belajar telah datang menghampiri peserta didik di tempatnya. Peserta didik tidak perlu bersusah payah pergi ke berbagai tempat untuk mendapatkan sumber belajar mengenai sejarah perjuangan bangsa.

Contoh lainnya lagi yang dilaksanakan Pustekkom-Depdiknas adalah materi pelajaran untuk penataran para guru-guru SD yang ditayangkan melalui siaran radio. Dengan menggunakan fasilitas radio transistor sederhana, para guru SD dapat berinteraksi dengan sumber belajar yang berupa siaran radio pendidikan. Artinya, sumber belajar yang mendatangi para guru di tempatnya.

Satu contoh lainnya lagi adalah pengembangan sumber belajar yang disajikan melalui media internet. Berbagai materi pelajaran atau pengetahuan populer yang dirancang dan dikemas ke dalam media internet dapat diakses, baik oleh peserta didik maupun masyarakat pada umumnya di mana pun mereka berada. Persyaratannya adalah ketersediaan fasilitas komputer yang terkoneksi dengan internet. Peserta didik yang mempunyai komputer terkoneksi dengan internet, maka mereka dapat belajar di rumah mereka masing-masing karena sumber belajar menghampiri atau telah hadir di lingkungan mereka.

Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap tentang berbagai jenis sumber belajar yang dikembangkan oleh Pustekkom, website yang tepat untuk dikunjungi adalah: http://www.pustekkom.go.id atau http://www.depdiknas.go.id atau http://www.tvedukasi.or.id atau http://www.e-dukasi.net atau email ke: info@pustekkom.go.id

Departemen Pendidikan Nasional melalui Pustekkom telah melakukan berbagai upaya untuk dapat menghadirkan berbagai sumber belajar sehingga tersedia di lingkungan kehidupan sehari-hari peserta didik. Dalam kaitan ini, yang diperlukan adalah sosialisasi keberadaan berbagai sumber belajar tersebut sehingga dapat diketahui oleh peserta didik. Dengan tersebarluasnya informasi tentang sumber belajar yang tersedia yang dapat diakses di manapun peserta didik berada, maka diharapkan peserta didik akan dapat mengoptimalkan pemanfaatannya. Dalam kaitan ini, ada satu hal yang kemungkinan dapat menjadi tantangan yaitu bagaimana menyediakan fasilitas yang diperlukan peserta didik untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber belajar yang telah ada di lingkungan mereka.

Kajian kritis terhadap artikel di atas.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mampu merubah wajah peradaban umat manusia hingga sekarang ini. Banyak perubahan-perubahan yang terjadi di seluruh muka buni ini, salah satunya adalah lahirnya konsep globalisasi atau menjadikan dunia sebagai tempat yang kecil yang memungkin seluruh manusia di dalamnya saling berinteraksi dan bertuka informasi. Inilah yang telah dihasilkan oleh sebuah teknologi yang lebih di kenal dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Teknologi ini sudah menjadi factor yang menentukan bagi seseorang bahkan sebuah negara untuk dapat beradaptasi dengan perubahan zaman yang sangat pesat dan cepat dan mempersiapkan kehidupan yang semakin hari semakin berkualitas. Hal inilah yang telah diterapkan oleh negara-negara maju di Eropa, Amerika bahkan beberapa Negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan dan China. Negara-negara yang mendapatkan predikat maju pada umumnya tidak lebih naik dengan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Tidak seperti di Indonesia yang hampir semua energi Sumber Daya Alam berlimpah dan tersedia dengan jumlah yang tidak sedikit.

Negara-negara maju tersebut mampu bertahan dan berkembang pesat dengan merubah ketergantungan terhadap alam dengan mengalihkan pada sebuah potensi hidup yang tidak terbatas yaitu knowledge atau ilmu pengetahuan melalui sumber daya manusia yang terdidik juga. Pendidikanlah menjadi ujung tombak pembangunan dan merubah wajah peradaban manusia saat ini. Pendidikan telah menjadi kebutuhan dasar manusia sehingga ketidak tersediaan peluang untuk memperoleh pendidikan menjadi suatu bencana bagi manusia yang hidup di era informasi sekarang ini.

Artikel yang berjudul Di Era Global, Sumber Belajar yang Mendatangi Peserta Didik merupakan sebuah sudut pandang yang menarik untuk dikaji. Mengingat hal ini telah menjadi sebuah trend hidup dewasa ini. Ibarat hidup di lumbung padi, manusia sekarang telah dikelilingi oleh limpahan kekayaan yang tidak terbatas berupa informasi dan pengetahuan. Informasi dan pengetahuan tidak lagi berwujud fisik dan harus dicari dan ditemui dengan membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit, tetapi telah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang bergerak mendekati siapa saja. Tentunya dengan didukung oleh kekuatan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang semakin canggih dan terjangkau.

Sebuah kemudahan bila segala informasi dapat hadir dihadapan manusia kapan pun dan dimana pun berada, bahkan informasi tidak memandang dari segi usia dan strata. Kemudahan ini kemudian dioptimalkan oleh beberapa negara untuk menjembatani kendala-kendala geografis dalam pemenuhan kebutuhan manusia akan pendidikan. Hal inilah yang dilakukan oleh Australia sebagai negara yang memiliki geografis yang sangat dinamis dan luas. Australia menyadari bahwa aset negara adalah lahirnya sumber daya manusia yang terdidik yang pada akhirnnya akan menngelola pembangunan negara ke arah yang lebih baik.

Melihat kenyataan tersebut, sudah seharusnya Indonesia sebagai negara yang besar dan tersebar di berbagai pulau untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan belajar dan pendidikan dengan bantuan Teknologi Informasi dan Komunikasi ini. Begitu banyak masyarakat Indonesia yang terpinggirkan bukan karena kepasrahan jauhnya tempat tinggal dari pusat informasi, tetapi belum sadarnya pemerintah untuk mengelola lebih arif dan optimal dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan. Pemerintah sudah seharusnya mampu mengoptimalkan peran-peran TIK dalam mengatasi disparitas tersebut agar tidak ada lagi daerah yang terbelakang dan miskin dalam hal pengetahuan dan informasi.

Memang benar bahwa kehadiran TIK mampu menyuguhkan kemudahan-kemudahan dalam hal memperoleh informasi dan pengetahuan, sehingga mampu menghampiri setiap manusia yang membutuhkannya. Kita dapat membayangkan bila dunia pendidikan nasional dalam mengoptimalkan seluruh masyarakat atau peserta didik untuk belajar dan memperoleh pengetahuan tanpa harus hadir di sebuah temapt yang jauh dari tempat keberadaanya. Namun ketika TIK tidak mampu disikapi dnegan tepat dan bijak maka sangat mungkin untuk menjerumuskan anak-anak bangsa kepada informasi-informasi sampah yang meracuni pikiran dan kehidupan.

Hadirnya TIK sebagai potensi besar merubah peradaban suatu umat manusia hingga mampu menyadarkan banyak bangsa di dunia yang dahulunya terbelakang dan miskin yang sekarang berkembang menjadi ujung tombak dalam peradaban modern. Bagaimana dengan Indonesia?


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: