Ilmu Belajar


Tunggal Ika sebagai Konsekuensi Ke-Bhinneka-an
Januari 12, 2010, 6:52 am
Filed under: Education

Oleh: Prof. Dr. Wuryadi,

Ketua Dewan Pendidikan DIY

Alam memberikan pelajaran penting bagi manusia, antara lain bahwa sistem alam terdiri atas komponen-komponen yang sangat beragam (plural), dimana seluruh komponen menjalankan satu amanah untuk melakukan sinergi demi kesatuan dan keutuhan sistem alam itu sendiri. Kian tinggi tingkat keragaman alam menunjukkan kian matangnya sistem alam dan kian jelasnya fungsi masing-masing komponen dalam menjaga keberlanjutan sistem. Keragaman dan sinergi adalah dua fungsi alami sistem yang tidak dapat diganggu gugat, bahkan di antara mangsa dan pemangsa sebenarnya terdapat sistem sinergi. Mangsa memberi makan bagi pemangsa, sedangkan pemangsa secara alami mempunyai fungsi untuk menjaga mangsanya agar tidak menjadi berlebihan (overpopulated). Fungsi kompetisi hanya terjadi manakala sistem berada dalam keadaan kritis.

Dalam masyarakat yang telah matang (mature), sifat multikulturalistis sebenarnya adalah bentuk keragaman budaya yang dapat saling mengisi untuk menjamin keberlanjutan sistem masyarakat itu sendiri. Keberagaman budaya-budaya masyarakat mencerminkan kematangan sistem masyarakat. Sinergi antara budaya satu terhadap budaya yang lain menunjukkan kualitas sistem masyarakat yang bersangkutan.

Konsep dasar Bhinneka Tunggal Ika sebenarnya bukan konsep yang sederhana. Konsep ini tidak demikian saja hadir di tengah kancah pemikiran politik dan sosial di negara Indonesia. Konsep dasar ini diangkat ke permukaan kehidupan bangsa Indonesia melalui pengkajian atas realitas masyarakat yang memang sangat beragam (plural). Namun, dibekali dengan kesadaran berbangsa, pluralitas ini dianggap sebagai karunia Tuhan dan dicari kesamaan di antara perbedaan untuk membangun persatuan. Oleh karena itu, patut disyukuri bahwa diantara sekian banyak founding fathers kita memiliki kesadaran yang sama, karena cara berpikir, kepentingan, dan cara melihat masa depan yang sama.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kesadaran mereka, yang ditularkan kepada masyarakat luas secara bersemangat dan konsisten, menghasilkan hal monumental yang tidak dapat diabaikan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Suatu deklarasi kebangsaan atau yang mudah dikenang sebagai Sumpah Pemuda 1928 : bersumpah berbangsa satu, bangsa Indonesia; bertanah air satu, tanah air Indonesia; dan menggunakan satu bahasa, bahasa Indonesia.

Deklarasi Kebangsaan atau Sumpah Pemuda ini menjadi modal dan tonggak sejarah yang sangat penting bagi perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya. Dua hal penting yang patut dikaji secara mendalam, yakni pemikiran geopolitik (bangsa dan tanah air), dan toleransi serta pikiran futuristik tentang bahasa. Kedua persoalan tersebut sangat mendesak untuk dikaji oleh siapa pun untuk mengembangkan kesadaran berbangsa, kemauan berbangsa, dan tindakan kebangsaan (Trilogi Kebangsaan, unsur dasar nation building).

  1. A. Bangsa Indonesia

Secara alamiah, kita memiliki kesadaran sebagai orang Betawi, orang Jawa, orang Sunda, orang Batak, orang Minang, orang Maluku, orang Bugis, orang Bali, orang Papua, orang Dayak, dan seterusnya, tetapi kita dengan kesadaran yang lebih tinggi mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Kesadaran yang lebih tinggi ini tidak terjadi begitu saja. Tidak terjadi secara langsung, akan tetapi memerlukan rangkaian penyadaran yang cukup panjang. Proses penyadaran yang terjadi karena dirancang melalui pemahaman dan pendidikan politik yang melahirkan kehendak atau cita-cita bersama maupun yang terjadi melalui pengalaman hidup yang sama sebagai bangsa terjajah dan tertindas.

Kehendak, kemauan, cita-cita, dan kepentingan yang sama dapat menjadi faktor utama lahirnya bangsa (teori Renan), walaupun latar belakangnya, bahasanya, asal-usulnya, dan budayanya berbeda. Faktor inilah yang menjadi pendorong untuk lahirnya Sumpah Pemuda, yakni kesadaran sebagai bangsa yang satu, yaitu bangsa Indonesia. Manakala kehendak, cita-cita, kemauan, dan kepentingan ini tidak lagi menjadi kesadaran bersama, maka menjadi wajar kalau kesadaran berbangsa menjadi luntur. Apalagi kesadaran yang tumbuh karena pengalaman yang sama dalam keterjajahan, yakni rasa senasib (teori Bauer) tidak menjadi kesadaran yang sama, maka kesadaran berbangsa akan menjadi sangat tipis. Satu-satunya sisa kesadaran yang masih ada adalah kesadaran bahwa kita berada dalam tempat yang sama, yakni tempat yang dinamakan Tanah Air, yaitu Indonesia. Yaitu tempat yang dikenal sebagai wilayah bekas Hindia Belanda. Ini pun tidak semua orang memahami, dan bahkan terdapat berbagai upaya sistematis untuk menghilangkan kesadaran tersebut dari ingatan sejarah kita.

Dari gambaran tersebut di atas, maka sangatlah wajar bahwa generasi muda yang tidak memiliki kehendak yang sama, yang tidak mengalami keterjajahan, dan mulai kabur dengan apa yang disebut Tanah Air-nya, akan memiliki tingkat kesadaran berbangsa yang sangat tipis.

Kesadaran berbangsa yang tipis akan menjadi kendala bagi tumbuhnya kemauan berbangsa, apalagi tindakan kebangsaan. Lebih-lebih lagi saat ini terdapat indikasi bahwa kepada generasi muda kita dimasukkan dalam situasi kehidupan yang lebih mengedepankan individualisasi sebagai cerminan kualitas diri. Kompetisi individual, liberalisasi pikiran, diskriminasi peluang menjadi bagian dari praktik kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai praktik kehidupan, perlakuan kebersamaan mulai dijauhkan. Akibat yang langsung dapat terjadi adalah kesadaran sebagai satu kesatuan bangsa, yakni bangsa Indonesia, hanya sebagai bayang-bayang.

  1. B. Ke-Bhineka-an dan Pembangunan Bangsa Indonesia (Nation Building)

Seperti diketahui, Indonesia sebagai satu negara memiliki jumlah pulau yang sangat banyak (lebih dari 17 ribu pulau, baik yang berpenghuni maupun tidak). Tidak ada satu negara pun di dunia yang memiliki pulau sebanyak itu. Setiap pulau besar atau beberapa pulau kecil secara bersama dihuni oleh satu atau lebih suku bangsa dengan cara hidup, kebutuhan hidup, adat istiadat, kebiasaan, bahasa, agama, peradaban, dan selanjutnya kebudayaan yang berbeda satu dan lainnya.

Kebhinekaan atau pluralitas seperti ini secara obyektif akan sulit sekali ditumbuhkan rasa kesatuannya, kecuali kalau semua komponen masyarakat mengembalikan dirinya sepenuhnya dalam tingkatan instingtif sebagaimana yang terjadi pada komponen sistem alam yang murni. Ini berarti manusia menghilangkan berbagai kepentingan pribadi, kelompok, dan golongannya. Hal ini tidak mungkin dilakukan karena berbagai kepentingan itu adalah hasil dari akal dan budaya yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Pemahaman untuk menumbuhkan kesadaran adanya kesatuan adalah bagian dari budaya yang perlu dibangun. Oleh karena itu, Sumpah Pemuda adalah satu karunia yang luar biasa bagi bangsa Indonesia dan menjadi modal yang berkembang untuk mencapai kemerdekaan sebagai bangsa dan negara. Bangsa yang hadir sebelum negara lahir adalah suatu yang tidak mungkin terjadi tanpa ridha Tuhan.

Sebaliknya, uniformitas yang dipaksakan terhadap kenyataan kebhinekaan yang ada justru menghasilkan penguatan atas kesadaran keperbedaan dan menumbuhkan eksklusivitas yang meluas. Gejala ini merusak fundamen kesatuan yang dibangun sejak Sumpah Pemuda, proklamasi dan deklarasi kemerdekaan Indonesia.

Inklusivitas yang dibangun di atas landasan kebhinekaan adalah pelajaran sangat berharga yang dapat dipetik dari Sumpah Pemuda atau Deklarasi Kebangsaan hampir 80 tahun yang lalu. Sisa-sisa dari jiwa inklusivitas dan rasa kesatuan ini masih sering muncul manakala terjadi bencana alam yang besar, seperti gempa dan tsunami di Aceh, gempa besar di DIY-Jateng. Solidaritas sosial yang terjadi sebenarnya merupakan karakter asli bangsa Indonesia yang penuh empati, namun sayang tidak sempat dilembagakan oleh pemerintah, baik daerah maupun pusat.

Yang menarik untuk dikaji adalah mengapa solidaritas sosial akibat bencana lumpur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur, seolah tidak berkembang? Persepsi bahwa bencana Lapindo mestinya ada pihak yang bertanggung gugat, nampaknya mengurangi solidaritas sosial yang spontan dapat berkembang di kalangan masyarakat.

Banyak pelajaran yang mestinya dapat dipetik (lesson learned) dari berbagai pengalaman yang terjadi. Namun, tampaknya dibutuhkan momentum yang tepat untuk melakukan pendidikan kebangsaan untuk sadar, mau, dan melakukan tindakan kebangsaan.

  1. C. Pembangunan Karakter Bangsa (Character Building)

Membangun rasa bersatu di atas kesadaran kebhinekaan yang ada adalah suatu proyek besar bangsa Indonesia. Rasa dan kesadaran untuk bersatu ini pernah ada, yakni pada saat kita mempunyai kehendak, cita-cita, kemauan, dan kepentingan yang sama, yakni ingin merdeka. Selain itu, rasa bersatu itu juga dibingkai oleh kesadaran bahwa kita hidup di tempat yang sama, yaitu wilayah Sabang-Merauke sebagai entitas kedaulatan negara Indonesia.

Sebenarnya modal utama utnuk membangun karakter bangsa Indonesia dalam berbagai dimensi kehidupan sudah diletakkan oleh para founding fathers dengan dasar negara dan filsafat kehidupan bangsa Indonesia: Pancasila. Modal ini menjadi sangat relevan manakala kita semakin disadarkan bahwa sesungguhnya kita masih dalam bayang-bayang hegemoni kepentingan asing, artinya kita bangsa Indonesia memang belum merdeka dalam berbagai dimensi kehidupannya.

Kesadaran bahwa kehidupan kita masih berada dalam bayang-bayang hegemoni globalisme, dapat dipahamkan melalui berbagai contoh seperti perjanjian pertahanan dengan Singapura, beberapa tahapan perubahan Undang-undang Penanaman Modal Asing, sampai pada Undang-undang Penanaman Modal Asing No 25 Tahun 2007, permintaan WTO dan GATS untuk menempatkan layanan pendidikan sebagai komoditas yang bebas dan terbuka bagi investasi modal asing, RUU BHP yang didahului UU Sisdiknas, yang ternyata merupakan salah satu syarat masuknya modal asing ke dalam sistem pendidikan nasional kita, yang kemudian ditegaskan oleh Perpres No 76 dan 77 Tahun 2007.  Kenyataan-kenyataan seperti tersebut sebenarnya cukup untuk memberikan kesadaran kepada bangsa Indonesia bahwa sebenarnya Indonesia masih belum merdeka.

Jiwa dan karakter hidup merdeka bisa dibangun dari kenyatan-kenyataan tersebut di atas dan pemerintahlah yang semestinya mempunyai proyek besar membangun karakter bangsa. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa justru pemerintahlah yang mengatur segala ketidakmerdekaan ini. Proyek besar untuk membangun karakter karakter merdeka ini menjadi sulit, karena yang menjadi sasaran justru pemerintah sendiri. Namun demikian kalau kesadaran tidak merdeka ini makin meluas, maka diharapkan mestinya pemerintah menempatkan di pihak rakyat.

  1. D. Refleksi

Kesadaran kebhinekaan bangsa, pluralitas bangsa dan multikulturalisme yang menjadi kenyataan pada bangsa Indonesia.tidak cukup untuk membangun bangsa ini, dibutuhkan kesadaran untuk bersatu menghasilkan ke-ika-an.

Cita-cita, keinginan, kebutuhan, kepentingan yang sama dapat diwujudkan kembali manakala timbul pemahaman dan kesadaran bahwa sesungguhnya kita masih belum merdeka dalam berbagai dimensi kehidupan kita.

Proyek  besar untuk membangun bangsa dan karakternya belum selesai dan dibutuhkan solidarias sosial, politik, kebudayaaan, dan ekonomi, yang dapat ditumbuhkan melalui gerkan untukumenumbuhkan kesadaran berbangsa, kemauan berbangsa, tindakan berbangsa, dan tindakan kebangsaan.

Kalau pemeritah dalam dalam posisi seperti sekarang ini tidak mungkin melaksanakan proyek besar ini, maka masyarakat yang paling sadar harus melakukan agar bangsa dan dan negara Indonesia tidak hilang ditrlah gelombang globalisasi yang syarat dengan hegemoni kepentigan.

Hanya dengan kesadaran sebagai bangsa yang besar dapat menjaga keberlanjutan kehidupan bangsa dan negara tercinta ini.  Semoga!


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: