Ilmu Belajar


Ayo Bubarin Sekolahmu!
Januari 12, 2010, 5:11 am
Filed under: Education

Oleh: EKO PRASETYO

Ada dua jenis manusia di dunia ini

Seorang realis dan pemimpi

Mereka yang realis tahu kemana akan pergi

Mereka yang pemimpi telah tiba di sana

(Robert Oben)


Siang itu seorang anak remaja memutuskan untuk keluar dari sekolah. Keputusan menarik diumumkan remaja itu di hadapan teman-temannya. Mirip dengan seorang pejabat yang mau menaikkan harga bensin. Diundang semua kawan-kawannya di kantin untuk mendengarkan pernyataannya. Sengaja hari itu ia memakai seragam lengkap dengan topi yang biasa dipakai untuk upacara. Wajahnya berseri mirip seorang pengantin remaja. Dalam kata-kata yang kemudian dikutip oleh banyak teman-temannya, ia bilang:

”Saatnya saya memutuskan untuk keluar dari sekolah ini. Sebab sekolah telah banyak merampas hak bermain dan hak kebebasan saya. Sejak saya sekolah yang ada hanya peraturan, keputusan, ketetapan yang tak pernah melibatkan saya. Mulai dari jam berapa masuk hingga berapa besar uang SPP, semuanya yang menentukan sekolah. Saya tak mau hidup saya terbuang untuk kegiatan bodoh ini. Hari ini saya putuskan untuk keluar dari sekolah dan saya umumkan ini di hadapan teman-teman. Karena yang berharga di sekolah bukan buku, pelajaran apalagi kepala sekolah. Yang berharga hanyalah pertemanan kita selama ini. Selamat jalan teman-teman dan mari kita jemput masa depan dengan cara kita sendiri-sendiri.”

Spontan tepuk tangan bergemuruh saat pidato itu berakhir. Ia tidak membuka sesi tanya jawab. Ia bilang tak punya waktu lagi untuk mendialogkan keputusan itu. Bulat sudah keinginannya untuk keluar dari sekolah. Mantap sudah keputusan untuk keluar dari sekolah. Sendirian ia keluar dari kantin dengan iringan teman-temannya. Ia mirip pemenang lomba lari karung. Dielu-elukan dan diantar hingga pintu gerbang. Siang itu ia merasa bangga bisa menjadi dirinya sendiri yang tidak takut, cemas atau khawatir akan masa depan. Tepat di dekat gerbang ia mengepalkan tangan dan bersorak gembira. Dibuangnya topi kecil yang warnanya lucu ke halaman dan ia berlari meninggalkan pelataran sekolah dengan teriakan yang membahana. ”Aku bebas…,” kira-kira begitulah suara yang terdengar. Hari itu teman-temannya akan selalu mengenang namanya. Dewantara, yang akrab dipanggil dengan sebutan: Dewa!

Kejadian itu tentu menggemparkan para guru dan terutama kepala sekolah. Sikap Dewa dinilai sebagai penghinaan atas institusi pendidikan. Kepala sekolah bersikukuh untuk memanggil polisi dan mau menangkap Dewa. Disebutnya tindakan itu sebagai pencemaran nama baik. Istilah yang selalu dipakai oleh politisi dan para pengacara. Digelar rapat untuk memutuskan sikap apa yang layak diberikan untuk remaja yang betul-betul gila ini. Ini lagi-lagi sebutan kepala sekolah yang selalu mengharuskan agar siswa itu jadi remaja yang pendiam, rapi, dan pintar. Buat kepala sekolah yang bernama Bambang ini semua sekolah itu punya tujuan mulia. Tak boleh ada anak yang menghina sekolah apalagi kepala sekolah. Baginya tindakan Dewa seperti melempari mukanya dengan kotoran. Ia betul-betul merasa terhina dengan cara Dewa memutuskan keluar dari sekolah. Tindakan Dewa seperti menabuh genderang perang pada jabatannya, bahkan pribadinya. Dalam kata-kata yang penuh emosi, sang kepala sekolah mengutuk tindakan Dewa di hadapan guru dan teman-teman Dewa

”Saya berulang-ulang mengatakan bahwa sekolah ini menentang semua tindakan pemberontakan apalagi penghinaan. Cara Dewa memutuskan keluar dari sekolah ini benar-benar patut disesalkan. Seolah-olah semua masalah itu tidak bisa didialogkan, didiskusikan, dan dimusyawarahkan. Saya prihatin kalau Anda-anda sebagai temannya tidak berusaha mengingatkan bahwa tindakan Dewa tidak arif, bahkan mengancam masa depannya sendiri. Juga untuk para guru seharusnya sejak dini tahu apa kemauan anak itu dan berusaha untuk meredam emosinya. Saya tegaskan sekali lagi bahwa tindakan Dewa ini adalah akibat tidak adanya kedisplinan, akibat kurangnya pendidikan tentang etika, dan terlalu longgarnya sekolah ini. Saya dengan ini memutuskan untuk tetap meminta pertanggung jawaban Dewa karena tindakannya menganggu stabilitas dan persatuan di sekolah ini.”

Begitulah sang kepala sekolah itu bertitah. Semua berkas kesiswaan Dewa dikumpulkan dan dilaporkan ke kepolisian. Dalam laporan yang ditumpuk dalam map yang begitu tebal dinyatakan bahwa Dewa tersangka pencemaran nama baik sekolah. Laporan yang dengan antusias langsung direspons secara cepat oleh pihak kepolisian. Lembaga penegak hukum yang kini begitu akrab dengan sekolah. Maklum Bambang, sang kepala sekolah, sering sekali meminta bantuan polisi untuk semua kegiatan. Sewaktu ujian nasional, polisi diminta untuk mengawal, mengawasi dan menangkap guru yang mungkin diindikasikan sebagai pembocor soal ujian. Pekerjaan yang berhasil menangkap guru dan juga berhasil menuai kritik. Bahkan, polisi juga dimintai untuk membantu mengoreksi soal ujian. Sebuah ide yang membuat Bambang begitu gampang untuk mencari SIM dan mendapatkan pinjaman motor. Malahan Bambang pernah melontarkan ide kalau polisi mungkin juga bisa membantu membuatkan soal ujian. Buat Bambang, polisi adalah aparat yang bisa memenuhi keperluan sekolah dan kebutuhan dirinya sendiri. Hampir mirip dengan penerbit buku pelajaran.

Dewa ternyata dengan mudah ditangkap oleh satuan kepolisian yang biasa memburu teroris. Penangkapan yang dramatis karena Dewa waktu itu sedang menyewa komik Naruto. Ia penggemar berat komik manga. Polisi dengan timnya yang bertopeng segera menangkap Dewa dan mengacak-acak tempat persewaan itu. Tangan Dewa diborgol dan diangkut oleh kendaraan lapis baja yang sudah disiapkan. Tempat persewaan komik itu sendiri kelak akan dikenai tuduhan sebagai markas yang memasok semua ide-ide subversif Dewa. Sebuah tuduhan yang menghina kecerdasan dan akal sehat. Komik bukan petunjuk membuat bom, tapi juklak untuk menghidupkan ide-ide gila. Semua orang terkejut dan media memberikan porsi berita yang begitu besar atas penangkapan yang dianggap tak senonoh, gila, dan tak masuk akal ini. Bambang, sang kepala sekolah, tampaknya tak menduga keputusannya bisa berakibat pada perlawanan opini publik yang besar-besaran. Ia berusaha berkilah kalau Polisi yang berminat sendiri menangkap Dewa. Polisi sebaliknya dengan kesal mengatakan bahwa tindakannya sesuai permintaan kepala sekolah. Tak ada yang tahu mana yang benar, tapi yang jelas publik mulai paham kalau polisi dan Bambang, si kepala sekolah, sudah benar-benar gila.

Tapi kontroversi itu tak menghentikan proses hukum untuk tetap mengadili Dewa. Bambang, si kepala sekolah, dengan keras tetap menuntut hukuman atas Dewa yang disebut-sebut sebagai pembuat onar dari sistem pendidikan yang sudah tersusun rapi. Dalam kesaksiannya Bambang menunjukkan bagaimana sikap Dewa selama ini yang selalu mengkritik keras sistem sekolah yang ia kelola

”Bapak hakim yang terhormat. Bagaimanapun kita harus menghukum anak bernama Dewantara ini. Banyak tindakannya yang menghina kewibawaan saya sebagai kepala sekolah. Dibilang soal ujian nasional itu sebagai proyek yang hanya akan menggemukkan pundi-pundi harta saya pribadi. Itu fitnah, tak berdasar dan komentar semaunya sendiri. Juga yang tidak sopannya mengatakan kalau saya bukan pendidik tapi pedagang karena sering meminta siswa untuk membeli buku-buku dari penerbit. Padahal tak ada larangan guru menganjurkan untuk membeli. Itu bukan korupsi dan bukan tindakan subversif. Bahkan, pernah Dewantara ini membuat saya marah karena mengajak teman-temannya untuk mogok tak mengikuti bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh sekolah dengan lembaga setempat. Saya betul-betul dipermalukan oleh lembaga bimbingan belajar ini. Padahal, semua yang saya lakukan ini untuk tujuan kecerdasan dirinya dan teman-temannya. Apa jadinya kalau anak seperti Dewantara ini dibiarkan untuk memengaruhi teman-temannya yang lain. Saya minta keadilan bapak hakim.”

Kening kepala sekolah yang berambut tipis itu berkeringat. Ia menyekanya berulang-ulang. Beberapa staf tampaknya sibuk melayani permintaannya. Ada yang membelikan es teh, ada yang memberinya bundelan hasil rapat dan beberapa diantara yang lain membawa setumpuk amplop. Ia tampak begitu sibuk dikelilingi oleh stafnya yang selalu saja meminta ini-itu. Dari mulai tanda tangan hingga membaca sekeping surat. Maklum, selain kepala sekolah, ia juga sibuk sebagai tim sukses pemilihan bupati. Jadi, urusannya rangkap, panjang dan sibuk sekali. Sebuah bukti bahwa tenaga, karya, dan kemampuannya dibutuhkan tak hanya untuk pendidikan. Urusan politik pun jadi bagian wewenangnya. Konon istrinya menjabat sebagai ketua yayasan sebuah perguruan tinggi. Dua pasangan yang bergerak di bidang pendidikan dengan semangat konservatif yang serupa. Dua pasangan yang membuat pendidikan menjadi ladang penghidupan dan bisnis. Sebuah bisnis yang diam-diam menghasilkan laba besar dan keuntungan yang tak habis-habis untuknya.

Dewa duduk di kursi depan hakim dan kini bersiap untuk meluncurkan pembelaan yang rasa-rasanya sudah lama ia tunggu. Baju yang dikenakannya bertuliskan slogan yang begitu lantang: buat apa sekolah kalau ditindas! Baju kebesaran yang tampaknya menjadi simbol ide besarnya. Ia bawa lembaran makalah sederhana yang diklip dengan rapi. Sederet kertas yang dijepit tali tipis dan dibukanya perlahan-lahan. Ia mulai berusaha untuk menyebut beberapa pertimbangan penting yang mau dikatakan. Seakan-akan ia hendak menyatakan pikiran yang sudah lama diredamnya:

”Bapak hakim yang mulia. Saya Dewantara tanpa Ki Hajar. Tapi saya adalah pengagum beliau dan selalu membaca karya-karyanya. Di sini saya berdiri untuk menyatakan sesuatu yang sudah saya pendam lama. Soal sekolah yang pernah saya huni dan kebetulan kepala sekolahnya adalah Bapak Bambang. Telah lama saya cemas dengan perkembangan sekolah saya terutama sejak dipimpin oleh Pak Bambang. Pertama-tama kecemasan saya tertuju pada beban pelajaran yang sudah tak masuk diakal. Ada belasan mata pelajaran yang dijejalkan dan puluhan les tambahan yang katanya untuk menunjang kualitas. Itu semua di luar kebutuhan saya pribadi. Saya tidak boleh memilih dan harus mengikuti semua ketentuan itu. Sekolah saya yang pertama-tama adalah melanggar hak saya sebagai manusia yang bebas. Kedua, saya tak mau ikut ujian nasional dan malas untuk mengikuti semua kegiatan persiapan itu. Ujian nasional itu menghina dan meragukan kecerdasan kami. Untuk apa sekolah capek-capek kalau ujung-ujungnya hanya beberapa mata pelajaran itu saja yang diteskan. Lagipula sudah banyak protes mengenai itu dan Pak Bambang sebagai kepala sekolah selalu menghardik semua kritik kami. Ia jenis kepala sekolah yang tak mau disanggah dan dipertanyakan keputusannya. Dan terakhir adalah bayaran ini itu di sekolah kami yang tak pernah terbuka. Untuk apa, digunakan apa dan bagaimana pertanggungjawabannya. Sekolah kami mirip dengan kerajaan yang mana Pak Bambang sebagai rajanya. Saya tak mau menjadi bodoh, tolol, dan naif dengan sistem yang gila ini. Jadi, saya mohon bapak hakim mempertimbangkan pandangan saya ini.”

Kebanggaan tampak membayang di wajah orang tua Dewa. Keduanya tak menyangka akan memiliki anak yang setangguh itu rasa percaya dirinya. Semula mereka terkejut dengan putusan Dewa keluar dari sekolah. Tapi, penjelasan Dewa bukan sekadar keluar dari sekolah, melainkan juga memutuskan untuk mendirikan sistem pendidikan alternatif. Ia gunakan halaman rumahnya untuk mengumpulkan anak-anak kecil desa sebelah. Mereka diajari bagaimana mencintai buku, menggunakan bahasa yang baik, melantunkan lagu dan puisi, serta yang tak kalah pentingnya belajar berorganisasi. Dewa berulang-ulang menyatakan bahwa pengetahuan tentang kebudayaan itu penting dan menjadi dasar bagi pembentukan sikap dan pencarian pengetahuan. Baginya, semangat itu yang membuat pendidikan akan selalu mengajarkan harapan, mendidik akan rasa cinta kemanusiaan dan mengutamakan kebersamaan. Dewa selalu meyakinkan hal tersebut berulang-ulang pada kedua orang tuanya mengenai etos pendidikan seperti itu. Dewa katakan:

”Ibu, Pendidikan hanya dikatakan berhasil kalau itu berarti memuliakan semangat persaudaraan. Untuk apa pendidikan unggul jika hanya melontarkan seorang anak menjadi manusia tercerdas sedang yang lain hanya menjadi barisan massa yang dungu. Pendidikan semestinya mengemban tanggung jawab seperti itu. Dan itu dapat diterapkan jikalau pendidikan melatih rasa cinta akan kemanusiaan, membudayakan organisasi, dan mengajarkan anak akar kebudayaan. Ibu, aku ingin mendirikan sekolah yang bisa membawa anak-anak itu dalam kebersamaan yang bersahaja, yang membawa mereka dalam petualangan pengetahuan tanpa rasa takut, kuatir, dan selalu cemas. Anak-anak adalah tunas yang berharga untuk dipatahkan hanya oleh nilai, kelulusan, dan prestasi. Mereka adalah masa depan yang seharusnya disiram tidak dengan kedisiplinan, tapi tanggung jawab. Yang tidak diajari mematuhi aturan melainkan bagaimana mengemban kebebasan. Hanya untuk itu saya harus memutuskan untuk keluar dari sekolah. Ibu, harus ada martir untuk menjadi pertanda bahwa ada yang keliru dari sistem pendidikan yang kita jalani sekarang ini.”

Alasan itulah yang kemudian membuat Dewa memutuskan keluar dari sekolah. Waktunya ingin dihabiskan untuk membina sekolah alternatif yang semboyannya ’belajar bersikap dan berani berpihak’. Kata-kata itu bahkan dipasang di spanduk muka rumah. Sekolah itu yang menghabiskan hari-harinya. Beberapa belas anak kemudian terlibat aktif di sekolah itu dengan pengajar sejumlah mahasiswa yang sebagian diantaranya adalah yang tinggal di dekat tempat tinggal Dewa. Walau sekolah itu tidak mendapat izin dari Depdiknas tapi pendidikan itu tetap saja berjalan dengan ketentuan yang dibuat bersama-sama siswa. Bambang, sang kepala sekolah, memang sudah mendengar ide Dewa yang radikal itu, tapi ia tetap bertahan bahwa pendidikan haruslah sesuai dengan ketentuan yang digariskan oleh perundang-undangan. Bambang tak mau tahu kalau undang-undang itu disusun oleh beberapa anak yang tak lulus sekolah juga. Ia tak tahu kalau undang-undang hanyalah perpanjangan kepentingan para penguasa, pengusaha pendidikan, dan segelintir siswa mapan. Jenis golongan yang selalu merasa pendidikan hanya urusan duit, duit, duit melulu.

Sidang itu berjalan tidak terlampau lama. Hakim seorang yang terkenal akan kewibawaan dan prinsip kejujurannya mulai membacakan putusan dengan berbagai pertimbangan. Sang hakim yang dikenal kerabat dekat dan konon keturunan Tjipto Mangunkusumo itu mulai memberikan pertimbangan. Ia mengemukakan sebuah penjelasan yang jarang sekali terdengar di persidangan:

Saya tak ingin sebenarnya mengadili kasus yang sudah begitu benderang ini. Saudara Bambang, semestinya Anda bangga punya siswa yang cerdas seperti Dewa. Anda seharusnya malu diingatkan tentang tugas pendidikan yang sebenarnya. Jabatan Anda sebagai kepala sekolah seharusnya menjadi pelindung bagi setiap ide kreatif yang muncul dari anak didiknya. Ide kreatif yang mengalir darinya mengingatkan saya kembali tentang apa sebenarnya arti pendidikan. Kalau saudara Bambang mengartikan pendidikan hanya meneruskan apa bunyi undang-undang dan melakukannya secara kaku tanpa tahu semangat yang mendasarinya, maka Anda benar-benar bebal. Aku hakim yang tahu bagaimana undang-undang itu diterapkan. Anda itu diberi tanggung jawab sebagai pemangku pendidikan: tahukah Anda apa makna pendidikan itu? Pendidikan berbeda dengan sekolah! Sekolah hanya salah satu alat untuk menghidupkan pendidikan dalam sebuah kenyataan. Kalau sekolah seperti yang saudara pimpin hanya menegakkan kepatuhan, kedisiplinan, dan tata krama yang feodal, itu sama halnya dengan membuat sangkar. Itu hanya untuk burung yang tidak ingin hidup bebas. Bagaimana jiwa-jiwa remaja yang bebas, berani, dan memiliki kemauan baja bisa tinggal jika pendidikannya kacau seperti yang Anda dirikan ini. Saya malu berdiri di sini untuk mengadili orang tua pandir seperti Anda. Tapi, saya bangga karena kita masih menemukan jiwa pemberontak seperti Dewa. Teruskan nak cita-citamu, kalau aku muda pasti aku akan mengikuti jejakmu dan aku setuju atas pilihanmu meninggalkan sekolah yang dikepalai oleh saudara Bambang ini. Terimakasih.”

Ketukan palu hakim yang bergema keras itu menghantam meja dan diikuti dengan sorak bergembira banyak orang. Diam-diam mereka mendukung ide brilian Dewa. Dewantara telah memenangkan pertarungan yang menyakitkan dengan kepala sekolah. Tampak wajah kepala sekolah yang pucat dan memendam marah. Ia buru-buru keluar persidangan diikuti oleh banyak stafnya. Mungkin ia naik banding atau bisa jadi menyerah pada putusan hakim. Tak tahu apakah perkataan hakim itu mengejeknya, menghinanya atau mempermalukannya. Pak Bambang tampaknya sudah kebal dengan sikap-sikap seperti itu. Ia bukan sekali dua kali mendapat teguran seperti itu. Ia kepala sekolah yang tahan sekaligus tuli terhadap kritikan. Beberapa polisi tampaknya membiarkan tepuk gembira anak-anak remaja. Mereka melompat gembira merayakan menangnya kebebasan melawan kedisplinan yang beku. Mereka begitu antusias merayakan kemenangan keberanian melawan ketakutan akan pembaruan. Dewa berdiri di atas tangga peradilan dan menyampaikan sebuah risalah yang menjadi gambaran tentang mimpi pendidikan masa mendatang

”Hari ini terbukti sudah pendidikan yang merayakan akal sehat memenangkan pertarungan. Pendidikan semacam inilah yang seharusnya hadir di tengah sekolah kita. Aku kini dirikan sebuah sekolah yang ingin mengatakan kepada anak didikku agar mereka berani melakukan tindakan, melahirkan inisiatif, dan berani hidup dalam gerakan. Saatnya kita untuk keluar dari sekolah yang hanya mengajarkan pengetahuan palsu dan mengabaikan realitas sebagai sumber pengetahuan. Saatnya juga kita keluar dari lembaga pendidikan yang tak melatih keberpihakan kepada mereka yang lemah. Pendidikan semacam itu telah terbukti hanya melahirkan orang pandir, tapi memegang kekuasaan. Pendidikan semacam itu hanya meluluskan orang pintar yang begitu egois. Malah pendidikan itulah yang membuat negeri ini dipadati oleh para bandit dan kaum koruptor. Pendidikan yang tidak melatih siswanya untuk belajar berorganisasi dan lebih mengajak mereka untuk sekadar menjadi barisan rapi yang pandir dan malas bergerak. Saya sekali lagi tak mau hanya mendirikan sekolah ala kadarnya; yang bisanya hanya meluluskan anak dan memberinya ijazah. Kita harus memperjuangkan pendidikan seperti itu dan membela setiap gagasan yang menuju ke sana.”

Barisan massa bergerak meninggalkan pengadilan. Ide Dewa menancapkan kembali gagasan tentang sekolah liar. Kata ’liar’, istilah yang dulu pernah dipakai oleh orang-orang Belanda ketika memberi cap pada sekolah yang didirikan oleh Soewardi Soerjaningrat. Juga untuk sekolah yang didirikan oleh para nasionalis. Kini sekolah liar itu berdiri di banyak tempat: ada yang berdiri dengan dukungan para petani, ada yang didukung oleh anak-anak jalanan, dan ada pula yang muncul karena inisiatif beberapa orang. Kurikulum mereka pun bermacam-macam: ada yang lebih banyak memuat pelajaran tari, ada yang menitik-beratkan pada puisi, dan ada yang lebih heboh lagi, pelajaran pergerakan. Tak tanggung-tanggung mereka keluar dari orbit kurikulum resmi. Malahan sekolah semacam itu kini menyebar di berbagai pelosok. Ada di Yogyakarta, Salatiga, Jakarta, Makasar, dan Semarang. Jauh lebih menyenangkan berdiri banyak sekolah ketimbang partai politik. Sekolah tidak saja mengantarkan pada kecerdasan kolektif, melainkan juga mengusung harapan baru atas masa depan. Partai hanya mengekalkan politisi pandir dan mengantarkan pejabat yang berwatak memalukan. Dewa kini bukan pribadi yang langka karena banyak orang kini mengambil keputusan seperti dia. Mendirikan sekolah murah, berkualitas, dan menyenangkan. Biarkan saja pemerintah tidak memberi izin karena memang bukan itu yang dibutuhkan. Yang dipusatkan dalam pendidikan ini adalah anak. Merekalah yang menjadi subyek dan pusat utama pendidikan. Mereka mendapatkan pendidikan yang akan membuat mereka memiliki ’kenangan dan impian’ tentang masa depan yang mereka pilih sendiri. Karena itu, pendidikan sebaiknya memberi hak pada anak sebesar-besarnya dan memberikan ruang kebebasan sepenuhnya pada mereka. Ringkasnya, pendidikan sebaiknya melayani jiwa petualangan dan keingintahuan peserta didik. Karena memang begitulah sebenarnya tujuan mulia pendidikan. Kita membutuhkan Dewantara-Dewantara muda yang jauh lebih berani mengambil inisiatif dan punya kegilaan dalam mewujudkannya dalam praktik. Mereka yang mampu mengembalikan pendidikan pada jiwa yang sesungguhnya.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: